"Yank....bagaimana ya enaknya??",begitu ucapan yang pertama kali aku tanyakan ketika aku menelpon calon istriku.Saat ini aku begitu bingungnya memikirkan pernikahan kami yang akan dilangsungkan tanggal 25 besok,yang artinya waktu yang tersisa cuma tinggal beberapa hari lagi.Setiap hari yang terlewati terasa begitu menakutkan bagiku.Bukan ketakutan akan pernikahan itu sendiri,tetapi karena sampai saat ini aku membiayai semua biaya pernikahanku dengan Wiwin,calon istriku itu.
Sekiranya saja aku masih bekerja seperti dahulu disebuah perusahaan kayu di Kalimantan,mungkin hal ini tidak akan menggangu.Bulan Januari lalu aku sudah disrumahkan sementara oleh perusahaan tempatku bekerja karena masalah perijinan perpanjangan usaha perusahaan belum keluar.Mau tidak mau aku pulang dengan hanya diberi "pesangon" Rp.750.000,- saja,yang menurutku akan habis dan tersisa sedikit ketika aku pulang ke Surabaya dengan menggunakan jasa penerbangan.Dan benar saja....gajiku yang hanya terhitung 2 bulan sejak kontrakku yang baru ditambah pesangon yang aku terima hanya mampu bertahan sekitar 2 bulan saja.Andai saja tabungan yang kusimpan untuk persiapan kami menikah tidak dipinjam oleh adikku untuk operasi cesar dan juga ayahku yang sampai sekarang tidak bertanggung jawab untuk sedikit membantu biaya pernikahanku.
Ahh...andai saja ini mimpi buruk dan aku dapat segera terbangun",begitu ucapku seolah-olah menyesali apa yang telah terjadi.Tetapi nasi telah menjadi bubur dan kenyataan sudah nampak didepan mata.Pernikahan tetap harus dilaksanakan karena sudah menjadi keputusan untuk dilaksanakan tgl 25 Agustus tahun ini pada saat mengembalikan lamaran bulan Januari lalu.
"Seandainya saja aku tiudak meminjamkan modal menikahku pada adik dan ayahku.....seandainya saja aku tahu......,demikian seterusnya.Kata seandainya selalu membayangi pikiranku,tetapi bagaimanapun aku tidak bisa!.Aku bukanlah raja tega yang cuma diam saja melihat adik perempuanku satu-satunya diujung maut,karena kandungannya sudah memasuki bulan ke-10 dan juga tidak ada tanda-tanda sekiranya bayi yang ditunggu akan lahir kedunia,tetapi juga bermasalah ketika d
irontgen
diketahui
kalau ternayta bayi yang ada dalam kandungannya terlilit oleh pusarnya sendiri...,dan mau tidak mau..operasi adalah jalan keluar sebelum terjadi sesuatu terjadi pada adik dan calon keponakanku.Sampai saat ini aku masih ingat bahwa bulan Januari lalu
Alhamdulillah akhirnya keponakanku telah lahir dengan selamat.Disaat bersamaan ayahku juga saat itu meminjam uang yang katanya digunakan untuk mengambil cicilan sepeda motor secara kredit,dan tanpa pikir panjang lagi aku langsung mengirim uang ke Bali,sedang ibuku langsung berangkat ke Surabaya untuk menemani adikku yang telah melahirkan.Siapa sangka.....sampai saat ini ibuku juga masih di Surabaya untuk
ngemong cucu pertamanya,karena suami adikku adalah bekas pecandu narkoba yang sampai saat ini masih mengganggur (begitu juga dengan aku sekarang.....).
Yang sampai saat ini masih gak bisa kumengerti adalah mengapa pada saat-saat seperti ini,ayahku yang seharusnya menanggung aku sebagai tanggung jawabnya malah meninggalkan ibuku disini.Dan yang paling menyakitkan adalah kabar yang mengatakan bahwa ayahku telah menikah lagi.
Aku memang sudah tahu konsekuensi yang akan aku terima karena memilih meninggalkan agama Hindu dan menjadi Muslim yaitu
akan dibuang dari kasta dan keluarga, dan aku tidak menyangka...ternyata dampak yang diterima akan sejauh ini,termasuk ibuku.Yang aku tidak menyangka adalah kenapa hal ini sampai melibatkan ibu yang akhirnya hanya akan membuat ibu menderita.
Ya Allah....ampunilah aku...
"Yank....ini tante Nur mau memberi uang pinjaman untuk belanja kita,tetapi tante juga bilang apakah aku bisa mengembalikan uang itu akhir bulan nanti...??,soalnya uang yang 3 juta yang akan dipinjamkan tante itu sebenernya uang buat bayar SPP dik Ita nanti",tanyaku lewat telepon
"
Apa yayank yakin kalau kita bisa mengembalikannya akhir bulan nanti..??",jawabnya pula
"Gak tahu lagi yank....,aku udah pusing mikirin waktu nikah kita yang bentar lagi.Kalau gak minggu depan,kapan lagi aku akan memberi uang belanja ke Bapak?",ujarku memberi alasan
"Aku sih setuju aja...tapi apa nanti uang yang terkumpul setelah kita nikah bisa ngumpul sebanyak itu...",sahutnya.
"Ya mungkin aja sih...kalau 600 undangan yang dipesan bapak semuanya datang",jawabku lagi."Kalau bisa mengembalikan uangnya setelah aku kerja dipanggil lagi keKalimantan sih gak masalah..,tapi tante Nur mintanya akhir bulan in",lanjutku
"Ya....terserah yayank aja,mudah-mudahan aja kita bisa..."Belum sempat selesai ngomong udah aku sahut lagi
"Daripada Dewi menggaidaikan sepeda motornya yank...,khan kasihan Dewi...,motornya itu khan buat kerja",potongku
"Iya Yank,jangan.....gak papa deh pinjem uang tante Nur dulu",jawabnya
"Soalnya aku rencana ngasil uang belanja ke bapak 2 juta,trus sisanya buat beli mas kawin dan buat selamatan keluarga sebelum berangkat ke Kediri",ujarku lagi.
"Dah...minggu depan aku langsung keKediri aja ngasih uang belanja.Gak usah pake acara ngiring lamaran kayak dulu lagi,soalnya uangnya mepet dan pinjaman lagi",kataku langsung
"Dah yank ya....minggu depan aja kita ketemu sekalian membicarakan ini.Pulsanya mau habis....dah dulu ya...Assalammualaikum",ucapku menutup pembicaraan ditelepon.
Tut...tut...tut....,tanda pulsa sudah mau habis,dan aku langsung menutup pembicaraan.Selesai menelpon aku langsung menuju kekamar untuk berbicara mengenai hal tadi.Seperti yang sudah aku duga ibu tidak setuju kalau aku harus sendirian keKediri untuk mengantar uang belanja ke calon mertua.Tetapi aku sudah mempunyai alasan yang kuat untuk menyanggah adat yang biasa dijadikan pedoman untuk melangsungkan acara sebelum hingga sampai selesai pernikahan.Dan yang jelas adalah keterbatasan biaya dan waktuku.
Akhirnya Ibu dengan berat hati menyetujui rencanaku yang terbilang aneh.
"Iya ma....ma....,ya gini ini namanya anak yatim bertemu dengan piatu",candaku yang akhirnya bisa sedikit mencairkan suasana.
Sebenarnya ada sedikit kabar baik dan kabar buruk yang aku terima minggu lalu.Kabar baiknya adalah aku ditelpon oleh Bos-ku untuk segera kembali ke Kalimantan.Kabar buruknya adalah apakah Wiwin siap aku tinggalkan setelah kami menikah nanti.
Ahh.....gak tahu....kepalaku langsung pusing memikirkan masalah itu.
Ya Allah,bagaimana ini...???